
BEIJING – Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia terus memperluas jejaring strategisnya di kawasan Asia untuk mencetak pemimpin birokrasi yang adaptif, berintegritas, dan berwawasan global. Hal ini diwujudkan melalui pertemuan bilateral antara Kepala LAN RI, Muhammad Taufiq, dengan Wakil Presiden China National Academy of Governance (CNAG), Prof. Gong Weibin, di Beijing. Pertemuan ini menyoroti peran esensial LAN dan CNAG dalam pengembangan kapasitas kepemimpinan pemerintah dan penerapan kepemimpinan dalam mengakselerasi transformasi kebijakan berbasis budaya.
Dalam kunjungan ini, Kepala LAN didampingi oleh Sekretaris Utama LAN Andi Taufiq, Deputi Bidang Penyelenggaraan Pengembangan Kapasitas ASN Tri Widodo Wahyu Utomo dan peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan 69, yang terdiri dari para pejabat senior pemerintah pusat dan daerah.
Dalam kesempatan strategis tersebut, Taufiq secara khusus menyampaikan upaya penguatan kerja sama dan kolaborasi berkelanjutan dengan CNAG, khususnya yang berfokus pada inovasi penyelenggaraan pelatihan kepemimpinan nasional. Taufiq juga menyampaikan bahwa transformasi kebijakan berbasis budaya dan penguatan kolaborasi kepemimpinan birokrasi di Asia menjadi penting di era saat ini.


Tawaran ini disambut baik oleh Wakil Presiden CNAG, Prof. Gong Weibin. Prof. Gong secara khusus menyoroti pentingnya penguatan kerja sama terkait program penguatan budaya dan integritas birokrasi. Upaya ini sejalan dengan komitmen tata kelola pemerintahan yang bersih di Republik Rakyat Tiongkok (RRT).
Melalui publikasi dan kebijakan resminya, Pemerintah RRT diketahui secara konsisten menerapkan kampanye antikorupsi yang komprehensif, salah satunya melalui implementasi Eight-Point Regulation (Regulasi Delapan Poin). Kebijakan strategis tersebut berfokus pada keseimbangan antara penindakan tegas, pencegahan sistemik, hingga edukasi integritas dan pembentukan budaya birokrasi yang bersih bagi para pelayan publik. Praktik baik ini diharapkan menjadi fondasi yang kuat bagi kedua negara dalam rangka pencegahan dan pemberantasan korupsi di lingkungan pemerintahan.
Selain isu integritas, diskusi bilateral ini juga diselaraskan dengan tema besar PKN Tingkat I, yakni “Kepemimpinan Adaptif dalam Mempercepat Transisi Energi Terbarukan untuk Memperkuat Resiliensi Nasional”. Muhammad Taufiq menekankan bahwa transisi dan transformasi kebijakan berskala besar membutuhkan arah kebijakan yang jelas, institusi yang adaptif, dan sumber daya manusia yang kapabel.
“Melalui pembelajaran bersama CNAG, kita menghubungkan dua dimensi penting: bagaimana mengembangkan kapasitas kepemimpinan pemerintah dan bagaimana mengaplikasikannya dalam transformasi kebijakan yang nyata,” ungkap Kepala LAN. Delegasi Indonesia secara aktif mempelajari bagaimana pemimpin sektor publik dipersiapkan untuk berpikir secara sistemis, mengambil keputusan di tengah ketidakpastian, dan menggerakkan perubahan yang melampaui sekat-sekat kelembagaan.
Kepala LAN memberikan arahan kepada para peserta PKN Tingkat I agar menggunakan momentum ini untuk mengkaji lebih dalam hubungan antara kepemimpinan, kapasitas institusional, dan hasil kebijakan. Peserta didorong untuk mengobservasi proses panjang transformasi budaya di baliknya—mulai dari bagaimana konsistensi kebijakan dijaga, sekat-sekat institusi diatasi, hingga penyelarasan berbagai kepentingan demi mengelola tantangan di lapangan.
Sebagai calon pemimpin puncak birokrasi, peserta dituntut untuk tidak hanya ahli merumuskan kebijakan, tetapi juga handal dalam memperkuat kapasitas organisasi dan mengorkestrasi berbagai aktor agar kebijakan tersebut membawa perubahan nyata. Sinergi budaya kepemimpinan, penguatan integritas antikorupsi, dan kolaborasi lintas negara ini diyakini akan memperkokoh resiliensi nasional sekaligus mempererat hubungan strategis birokrasi di kawasan Asia